HATI-HATI, BODY SHAMING BISA TIMBULKAN MASALAH PSIKOLOGIS

- oleh Fransisca Vita Febriana

Artikel oleh Ibu Tunjung Sri Yulianti, S. Kep., Ns., M. Kes

 

Mengomentari masalah fisik dan penampilan seseorang biasa dikenal dengan sebutan body shaming. Tanpa kita sadari, mungkin kita pernah melakukannya, atau justru kita sendiri yang mendapatkan perlakuan semacam itu. Mungkin dengan maksud bercanda, tapi niat bercanda itu ternyata berdampak negatif. Body shaming menjadi persoalan serius sejak beberapa tahun terakhir. Baik di media sosial, melalui chat, atau secara langsung, banyak orang-orang di sekitar kita yang melakukan body shaming.

Sakinah (2018) dalam penelitiannya memaparkan bahwa teknologi telah memberikan kemudahan dalam mengakses informasi melalui media apapun. Hal tersebut memunculkan tren yang berkembang di masyarakat termasuk tren menyangkut penampilan dan gaya hidup. Muncul standar ideal terkait dengan bentuk tubuh. Penggunaan media sosial dimana banyak foto, video, artikel, dan publikasi lainnya seputar kecantikan, perawatan tubuh, maupun kesehatan secara tidak langsung seolah menjadi standar tentang bagaimana seharusnya seseorang terlihat. Hal ini tanpa disadari telah membuat kita melihat ketidaksempurnaan pada diri sendiri dan orang lain, membuat banyak orang menjadi sulit untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri, juga orang lain sehingga timbul body shaming.

Mengutip penjelasan dr. Arina Heidyana dari KlikDokter, dampak body shaming sangatlah tidak sehat yaitu menyebabkan harga diri rendah, kemarahan, stres, ingin melukai diri sendiri, gangguan dismorfik tubuh, dapat memicu penyakit-penyakit yang tidak diinginkan, bahkan kematian.  Selain itu, fungsi tubuhnya dapat bermasalah, seperti gangguan menstruasi, berkeringat, gangguan makan yang sering disembunyikan,  perilaku makan tidak sehat sehingga memiliki kualitas hidup yang buruk. Bahkan, menurut data dari ANAD (Association of Anorexia Nervosa And Associated Disorders), setidaknya satu orang meninggal setiap 62 menit akibat body shaming,.

Bagi mereka yang bisa menghadapinya dengan sikap positif, cenderung akan cuek terhadap tindakan body shaming yang dilakukan terhadapnya. Namun, tidak sedikit juga yang sampai mengalami masalah serius. Dalam survei online yang dilakukan oleh Mental Health Foundation, 31% remaja merasa malu terhadap tubuhnya, 35% orang dewasa pernah merasa depresi terhadap tubuhnya, dan 13% orang dewasa merasa ingin bunuh diri karena kekhawatiran tentang citra tubuhnya sendiri.

Kita tidak boleh menganggap remeh hal ini, Lebih berhati-hatilah dalam mengeluarkan suatu perkataan atau candaan, baik secara langsung atau lewat media sosial. Karena, kita tidak pernah benar-benar tahu bahwa ternyata orang tersebut menganggap serius sebuah perkataan hingga membuatnya stres. Dampak psikologis body shaming bisa dihindari dengan cara lebih menghargai dan mencintai diri sendiri, serta tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Mulai sekarang, hentikan body shaming dan berusahalah untuk lebih peka terhadap omongan yang diucapkan.

 

Sumber :

 

  1. 2018. “Body Shaming, Citra Tubuh, Dampak dan Cara Mengatasinya”
  2.  Klik Dokter